Showing posts with label pertanian. Show all posts
Showing posts with label pertanian. Show all posts

Thursday, February 12, 2015

Cara Budidaya Cabe Dalam Pot

Cara Budidaya Tanaman Cabai Di Pot.  Tanaman ini merupakan sesuatu yang paling sering diminati karena merupakan bumbu utama untuk membuat masakan di Indonesia. Tetapi harga dari buah cabe ini sering melambung tinggi padahal sebenarnya tanaman ini sangat mudah untuk di tanam di teras, pekarangan dan di loteng rumah sekalipun tetapi hal ini sering kita lupakan karena harganya juga sering murah. kali ini admin konsultasi sawit akan mencoba untuk menyampaikan informasi tentang cara bertanam cabe dalam pot.

Sebelum mengetahui cara budidayanya kita harus mengetahui syarat hidupnya terlebih dahulu.Adapun syarat tumbuh tanaman cabai :
- Tanah tempat penanaman cabai (cabe) harus gembur dengan kisaran pH 6,5 – 6,8. Sebaiknya menggunakan kompos untuk mengisi pot atau polibagnya.
- Tanaman cabai (cabe) memerlukan air cukup untuk menopang pertumbuhannya. 
- Angin sepoi-sepoi cocok untuk budidaya cabai (cabe). 
- Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman cabai (cabe), berkisar antara 10 – 12 jam per hari.  Jadi bisa di budidayakan di teras rumah sebagai pengganti bunga jika anda tidak memiliki pekarrangan atau halaman rumah.
- Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai (tanaman cabe) 24C - 28C.

Tehnik budidaya tanaman cabai Dalam Pot :

Bahan - Bahan
Untuk budidaya tanaman cabe anda sebaiknya menyiapakn bahan-bahan :
1. Ember, pot, karung, polibag sebagai tempat penanaman
2. Kompos sebagai media tanam
3. Benih atau bibit cabe karena kita akan menanamnya.

Peralatan yang dibutuhkan adalah cukup dengan tangan saja dan alat penyiram bisa gayung, ember, gembor dan lain sebagaianya.

Tahapan Budidaya :
1. Siapkan tempat penanaman baik itu pot, ember, karung atau polibag
2. Isi dengan kompos sampai penuh
3. Siram hingga kompos akan menjadi lebih padat.
4. Tanam benih cabe sebanyak 2-3 biji untuk setiap pot dengan kedalaman lobang 1 cm
5. Tutup kembali lobang tanam
7. Siram kembali 

Biasanya tanaman cabe akan mulai tumbuh 10 hari setelah tanam.

Pemeliharaan Tanaman cabe :

1. Pengendalian gulma/rumput dan tanaman cabai (cabe) terserang hama penyakit disingkirkan dari pot secara manual dengan tangan.
4. Pemupukan tanaman cabai
Diberikan dengan cara pengocoran :
- Umur 15 hst dan 30 hst, dosis 3kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai (cabe) 200ml.
- Umur 45 hst dan 60 hst, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai (cabe) 200ml.
- Umur 75 hst, 90 hst dan 105 hst, dosis 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai (cabe) 200ml.
Pupuk daun
-  Kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dan 21 hst.
-  Kandungan Phospat, Kalium dan Mikro tinggi diberikan umur 35 hst dan 75 hst.

Hama dan penyakit tanaman cabai :

Hama cabai
Gangsir
Gangsir tanaman cabai (cabe) adalah Brachytrypes portentosus. Hama ini menyerang tanaman muda yang baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Gangsir membuat liang dalam tanah sampai kedalaman 90 cm. Gangsir merusak tanaman cabai (cabe) dengan cara memotong pangkal batang tapi tidak memakannya. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
Ulat Tanah
Ulat tanah tanaman cabai (cabe) adalah Agrotis ipsilon. Hama jenis ini menyerang tanaman cabai (cabe) di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman cabai (cabe) muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan ulat pemotong. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
Ulat Grayak
Ulat grayak tanaman cabai (cabe) adalah Spodoptera litura. Hama ini menyerang bagian daun tanaman cabai (cabe) dengan cara bergerombol. Daun menjadi berlubang dan meranggas. Ulat grayak disebut juga ulat tentara. Seperti halnya jenis ulat lain ulat ini menyerang tanaman cabai (cabe) malam hari, sedang siang harinya bersembunyi di balik mulsa atau dalam tanah. Ulat grayak bersifat polifag. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Ulat Buah
Ulat buah tanaman cabai (cabe) adalah Helicoverpa sp. Hama ini menyerang buah muda dengan cara membuat lubang dan memakannya. Ulat buah bersifat polifag. Pengendalian kimiawi  menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Thrips
Thrips tanaman cabai (cabe)e adalah Thrips parvispinus. Serangannya ditandai adanya bercak-bercak keperakan pada daun tanaman cabai (cabe) yang terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun muda sehingga menyebabkan daun tanaman yang terserang mengeriting, akhirnya tanaman cabai (cabe) menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahanaktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Kutu Daun
Kutu daun tanaman cabai (cabe) adalah Myzus persiceae. Kutu ini mengisap cairan tanaman cabai (cabe) terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga menggundang semut. Serangan parah menyebabkan daun mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman cabai (cabe) menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Kutu Kebul
Kutu kebul tanaman cabai (cabe) adalah Bemisia tabaci. Hama berwarna putih, bersayap, tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Tungau
Tungau tanaman cabai (cabe) adalah tungau kuning (Pol Polphagotarsonemus lotus) dan tungau merah (Tetranychus cinnabarinus). Tungau bersembunyi di balik daun sambil menghisap cairan daun. Daun cabai (cabe) yang terserang berwarna kecoklatan, terpelintir, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Lalat Buah
Lalat buah tanaman cabai (cabe) adalah Dacus dorsalis. Lalat betina dewasa menyerang dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur ini akhirnya menggerogoti buah cabai (cabe) sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil.  Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Nematoda
Nematoda tanaman cabai (cabe) adalah Meloidogyne incognita. Serangan nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Nematoda merupakan cacing tanah berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing parasit penyerang bagian akar tanaman cabai (cabe). Bekas gigitan cacing inilah akhirnya menyebabkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Penyakit Cabai :

Rebah Semai
Rebah semai tanaman cabai (cabe) adalah Pythium debarianum. Penyakit ini biasa menyerang tanaman cabai (cabe) fase pembibitan dan tanaman muda setelah pindah tanam. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.
Layu Bakteri
Bakteri penyebab layu tanaman cabai (cabe) adalah Pseudomonas sp. Penyakit layu bakteri sering menggagalkan tanaman, tanaman cabai (cabe) yang terserang mengalami kelayuan pada daun, diawali dari daun-daun muda. Upaya pengendaliannya antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman cabai (cabe) terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
LayuFusarium
Cendawan penyebab layu tanaman cabai (cabe) adalah Fusarium oxysporum. Tanaman cabai (cabe) yang terserang mengalami kelayuan dimulai daun-daun tua, kemudian menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Upaya pengendaliannya antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman cabai (cabe) terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Busuk Phytophtora
Cendawan penyebab busuk phytophtora tanaman cabai (cabe) adalah Phytopthora infestans. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman. Serangan pada Batang ditandai bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman cabai (cabe) layu. Daun yang terserang seperti tersiram air panas. Buah yang terserang ditandai bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram,  atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Busuk Kuncup
Penyakit busuk kuncup tanaman cabai (cabe) adalah Choanephora cucurbitarum. Penyakit busuk kuncup menyerang bunga, tangkai bunga, pucuk dan ranting tanaman cabai (cabe). Ranting yang terserang berwarna coklat kehitaman dan cepat menyebar sehingga mematikan ujung tanaman cabai (cabe), sedangkan bagian lainnya masih tegar. Ranting mati membusuk. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf, dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram,  atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Bercak Cercospora
Cendawan bercak cercospora tanaman cabai (cabe) adalah Cercospora capsici. Penyakit bercak cercospora menyerang daun, tangkai buah, batang dan cabang tanaman cabai (cabe). Gejala serangan ditandai adanya bercak bulat kecil kebasah-basah, bercak dapat meluas dengan diameter 0,5 cm, pusat bercak berwarna pucat sampai putih, tepi bercak berwarna lebih tua. Daun yang terserang parah berwarna kuning dan gugur. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Antraknosa(Patek)
Cendawan antraknosa tanaman cabai (cabe) adalah Colletotrichum capsici dan Gloesporium piperatum. Antraknosa sering juga diistilahkan patek. Serangan pada buah ditandai bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, di sini cendawan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Buah yang terserang harus dimusnahkan dari area penanaman cabai (cabe). Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Virus
Virus tanaman cabai (cabe) adalah TMV, TEV, TRV, CMV, TRSV, CTV dan PVY. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman cabai (cabe) mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat perempelan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman cabai (cabe) terserang, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman cabai (cabe).

Panen cabai :
Cabai (cabe) merah dapat dipanen pada umur 110 hst. Buah dipanen adalah buah 80% masak.

Demikian informasi tentang cara budidaya tanaman cabai dalam pot semoga dapat membantu dan bermanfaat.

Thursday, February 5, 2015

Cara Budidaya Lele Panen 50 Hari

Cara Budidaya Lele Panen 50 Hari. Secara normal lele baru bisa dipanen setelah 3 bulan pemeliharaan dengan berat badan 100 gr/ ekor tetapi menurut informasi yang diperoleh oleh admin konsultasisawit dari beberapa sumber informasi bahwa saat ini lele dapat di panen setelah dipelihara selama 50 hari saja. Anda penasaran bagaimana caranya akan di jabarkan secara detail dalam artikel ini.

Tetapi sebelum kita aungkapkan rahasianya ada baiknya kalau kita kilas balik apa sebenarnya dan bagaimana cara budidaya lele itu sendiri. ikan lele dapat diusahakan di kolam tanah,kolam semen, bahkan di sawah atau yang sekarang lebih ramai dikembangkan di kolam terpal. Ikan lele adalah komoditas ikan air tawar yang mempunyai nilai gizi yang tinggi yang terdiri dari protein 17 %, lemak 4,8%, mineral 1,2 % ,vitamin 1,2 % dan air 75,1 %.

Makanan ini sangat laris manis terbukti sepanjang jalan perkotaan hingga pedesaan paling mudah ditemukan warung yang menjual pecel lele, benar bukan?? Bagaimana dengan daerah anda.

Ikan lele yang banyak dibudidayakan saat ini lele dumbo, sangkuriang , piton, mamo dll. Ikan lele sungai, rawa, danau bahkan payau jarang dibudidayakan karena pertumbuhannya yang lambat.


Pemelihara lele sangat mudah dilakukan asalkan anda menggunakan bibit yang sehat dan kolam yang memenuhi syarat hidup ikan lele . Jika ada serangan penyakit saat ini sudah banyak vaksin untuk benih ikan lele agar tetap sehat.

Ikan lele tergolong ikan omnivora, memakan tumbuhan, cacing, bahan organik, dll. Ikan ini aktif makan pada malam hari dan mencari makan di dasar kolam. sebenarnya pemberian pakan tenggelam lebih cocok.

Basa basinya sudah cukup dan berikut adalah cara agar lele 50 hari :
1. Siapkan kolam baik itu dari tanah, tembok atau terpal sesuai ukuran yang diinginkan
2. Masukkan kapur dengan dosis 50-100 gram/m3 air kolam.Tergantung pH tanah. 
3. Berikan pupuk kotoran ayam dengan dosis  500-700 gram/m3 air kolam.
4. Tambahkan PROBIOTIK dengan dosis 100 gram untuk 1000 m3 air kolam. probiotik dapat di beli di toko perikanan berfungsi sebagai pengurai sisa makanan menjadi bahan organik yang berguna untuk ikan lele.
5. Isi air hingga ketinggian mencapai 30-50 cm dan biarkan sampai satu minggu, sampai air kolam jadi coklat atau kehijauan berarti plangton sudah tersedia. Jika demikian berarti kolam siap diisi dengan benih lele.
6. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pagi hari pada saat udara tidak panas. Sebelum di tebar benih yang dalam kemasannya di rendam kedalam kolam selama 15-20 menit agar tidak stress karena perubahan suhu air yang mendadak. Setelah itu buka ikatan dan biarkan benih lele keluar sendiri dari kemasan ke air kolam.

Padat penebaran ikan lele dalam kolam tanah 35-50 ekor per m2 sedang kolam semen atau terpal bisa mencapai 100 ekor per m2 atau lebih tergantung daya dukungnya. ukuran benih untuk tebar sebaiknya minimal ukuran 5-7 cm.

7. Rahasia agar lele dapat dipanen 50 hari adalah pada tehnik pemberian pakan. Lele akan kanibal jika kekurangan pakan untuk itu dibuatkan jadwal pemberian pakan untuk 1000 ekornya,  sebagai berikut :
a. Hari Setelah Tebar 1  -  7 hari Jenis Pakan PF 800 Banyaknya 2 kg
b. Hari Setelah Tebar 8  -  14 hari Jenis Pakan PF 1000 Banyaknya 3 kg
c. Hari Setelah Tebar 15-  23 hari Jenis Pakan LP 1 Banyaknya 10 kg
d. Hari Setelah Tebar 24-  50 hari Jenis Pakan LP  3 Banyaknya 85 kg
Total pakan yang dibutuhkan hingga panen adalah 100 kg. 

JIka anda mengikuti cara di atas maka ikan lele akan dipanen berukuran 8-10 ekor per kg atau 100 gram per ekor setelah 50 hari pemeliharaan. SELAMAT MENCOBA..!!!

Penyakit Ikan Lele
Penyakit yang biasa menyerang ikan lele adalah akibat dari infeksi bakteri aeromonas, yang timbul akibat lingkungan yang kurang baik. Penyakit yang lain adalah yang dikenal bintik putih yang disebabkan oleh protozoa. Penyakit bakteri aeromonas dapat disembuhkan dengan tetrasiklin,streptomisin,dan kemecitin.

Obat tersebut diberikan dengan cara menyampurkan dalam pakan selama satu minggu dengan dosis 1 mg per 100 grm berat ikan per hari. Penyakit bintik putih diobati dengan cara merendam ikan sakit kedalam larutan garam dapur selama 30-60 menit setiap hari dalam seminggu.

Demikian informasi tentang cara budidaya lele panen 50 hari semoga anda dapat mencobanya di kebun kelapa sawit anda terutama jika sawit anda sudah tua yang tidak lama lagi akan di replanting sehingga sambil menunggu sawit baru berbuah anda masih tetap punya penghasilan.

Wednesday, February 4, 2015

Sistem Pengairan/Irigasi Pembibitan Kelapa Sawit

Sistem Pengairan/Irigasi Pembibitan Kelapa Sawit. Salah satu faktor penentu keberhasilan pembibitan kelapa sawit sangat tergantung dari sistem pengairan terutama pada pembibitan dalam jumlah yang banyak. Kebutuhan air di pembibitan main nursery sangat tinggi dimana dibutuhkan lebih dari 2,5 liter/polibag/hari. Jadi harus di pastikan bahwa ketersediaan air tersedia di pembibitan kelapa sawit.  Mengingat masalah air sangat vital bagi pembibitan maka harus dipastikan bahwa areal pembibitan dekat dengan sumber air sebagai salah satu syarat wajib pembibitan kelapa sawit.

Untuk pembibitan dalam jumlah yang kecil maka pengairan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan gembor atau dengan menggunakan selang air yang dapat di tarik. Untuk pembibitan dalam skala besar maka diperlukan sistem penyiraman yang baik. 


Adapun alat, bahan dan sistem penyiraman di pembibitan kelapa sawit adalah sebagai berikut:

A.Sistem manual
Air dihisap dari sumber air bisa berupa parit, sumur, waduk  atau sungai  menggunakan pompa air dan dialirkan ke lokasi pembibitan melalui pipa dan selang. Penyiraman dilakukan secara manual dengan menggunakan selang. 

B.Sistem Sprinkler 
Sistem ini adalah pengembangan cara manual dimana air yang dihisap dari sumber air dialirkan melalui pipa induk kemudian dihubungkan dengan pipa utama dan pipa distribusi yang mengarah ke dalam barisan bibit. 

Setiap jarak 2 - 3 meter dibuat sambungan dan dipasang pipa berdiri dimana di ujungnya di pasang sprinkler untuk menyiram bibit. Setiap pipa distribusi memiliki panjang 9 – 18 meter dan dilengkapi dengan 8 - 9 sprinkler. Kebutuhan air sekitar 75 m3 /ha/hari, efisiensi 30-40% dengan pompa air berdaya pancar 45 psi. kekuatan pompa 18-20 horse power untuk 8 hektar pembibitan


Kebutuhan Air per Bibit
Pada tahap pembibitan pre nursery kebutuhan air per bibit adalah 0,1 – 0,3 liter/hari sehingga pada saat hujan tidak turun maka penyiraman perlu dilakukan sebanyak 4 mm air per polybag setiap 2 hari sekali. Penyiraman dengan mesin pompa tidak boleh dilakukan agar akar muda tidak terganggu. 

Penyiraman harus dilakukan dengan dengan semprotan yang halus, akan lebih baik bila menggunakan gembor secara manual.

Untuk pembibitan tahap main nursery kebutuhan air per biit adalah  2,5 liter/hari, oleh karena itu penyiraman harus dilakukan secara rutin 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari terkecuali terjadi hujan maka penyiraman dilakukan dengan cara :

• Jam penyiraman : 07.00 wib – selesai paling lambat jam 11.00 wib; sore hari jam 15.00 wib – selesai
• Bila malam sebelumnya turun hujan (> 8 mm) dan tanah di polybag masih basah maka penyiraman hanya dilakukan sore hari saja.
• Bila pagi harinya hujan turun (> 10 mm) maka tidak perlu penyiraman pagi dan sore.

Demikian informasi tentang sistem penyiraman pembibitan kelapa sawit semoga dapat membantu dan bermanfaat.

Tuesday, February 3, 2015

Pembibitan Main Nursery Kelapa Sawit

Pembibitan Main Nursery Kelapa Sawit. Pada artikel sebelumnya telah kita bahas tentang pembibitan kelapa sawit tahap pertama yaitu prenursery kali ini akan di bahas tahapan kecua yaitu pembibitan main nursery kelapa sawit. Pembibitan main nursery dilakukan setelah bibit kelapa sawit berumur 3 bulan pada tahap prenursery. sebelum dilakukan pemindahan bibit maka dilakukan seleksi bibit untuk membuang bibit yang tidak normal.

Adapun tahapan pekerjaan  untuk pembibitan kelapa sawit tahap main nursery adalah sebagai berikut ini :

Persiapan Media.
Tanah yang digunakan harus tanah  lapisan atas dan tidak tercampur dengan batu-batu kerikil. Tekstur tanah sebaiknya lempung berliat dan mempunyai sifat drainase yang baik (tidak boleh menggunakan tanah gambut).

Tanah dicampur dengan pupuk TSP/RP sebanyak 150 gr/100 kg tanah atau solid dengan perbandingan 1 : 6 (solid + tanah). Solid yang dipakai adalah solid yang yang sudah cukup matang terdekomposisi (± 1 bulan). 

Isikan tanah tersebut ke large bag ( 20 kg per large bag) sampai setinggi  1 cm dari bibir kantong (setelah padat akan turun menjadi ? 3 cm dari bibir kantong).  Pengisian tanah diusahakan cukup padat dan berdiri tegak (tidak bengkok atau patah pinggang).  Tanah yang diisikan ke dalam large bag harus ada dalam keadaan kering.

Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.

Polibag yang sudah diisi dengan tanah kemudian di susun segitiga sama sisi dengan  jarah 90 cm x 90 cm x 90 cm.

Transplanting (Pemindahan Bibit)
Tanah di polibag besar kemudian di lobagi dengan menggunakan pipa 4” agar sesuai dengan ukuran polibag kecil, kemudian polibag kecil di belah pada bagian smaping dan bawah sehingga bibit beserta tanah dapat di ambil dan dimasukkan kedalam lobang tanam di polibag besar. 

Tanah di sekitar bibit kemudian di padatkan dan di lakukan penyiraman. Tujuannya adalah untuk menyediakan air yang cukup dalam polibag sehingga bibit yang baru dipindahkan tidak akan mengalami stress air yaitu menjadi layu.

Pemiliharaan Bibit Main Nursery
Penyiraman
Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha menghasilkan kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu setiap pagi dan sore hari.

Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7-8 mm pada hari yang bersangkutan. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat. Kebutuhan air siraman ± 2 lt/polybag/hari, disesuaikan dengan umur bibit.

Penyiangan
Penyiangan di pembibitan main nursery dapat dilakukan sekali sebulan di polibag sedangkan untuk gulma yang berada di tanah dapat di lakukan pengendalian secara kimia.

Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan, dikored atau disemprot dengan herbisida. Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan, atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.

Pemupukan
Pemupukan di pembibitan main nursery dilakukan sesuai dengan dosis berikut ini :
1. Umur 14 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 2,5 gr/bibit
2. Umur 16 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 5 gr/bibit
3. Umur 18 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 7,5 gr/bibit
4. Umur 20 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 10 gr/bibit
5. Umur 22 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 10 gr/bibit
6. Umur 24 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 10 gr/bibit
7. Umur 28 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 20 gr/bibit + Dolomite 20 gr
8. Umur 32 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 20 gr/bibit
9. Umur 36 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 25 gr/bibit
10. Umur 40 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 25 gr/bibit + Dolomite 30 gr
11. Umur 44 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 30 gr/bibit 
12. Umur 48 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 30 gr/bibit 
13. Umur 52 Minggu diberikan pupuk NPK dengan dosis 30 gr/bibit + Dolomite 30 gr

waktu pemupukan diatas dihitung sebagai lanjutan umur minggu dari pembibitan pada tahap pre Nursery.

Di pembibitan prenursery seleksi bibit dilakukan pada saat bibit berumur 4 - 6 minggu dan saat akan di pindahkan ke main nursery yaitu pada saat bibit berumur 12 minggu. Bibit yang diseleksi adalah bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang.

Demikian informasi tentang cara pembibitan main nursery kelapa sawit jangan lupa baca juga tahap pembibitan pre nursery. Pada artikel berikutnya kita akan membahas cara melakukan seleksi bibit kelapa sawit. Demikian informasinya semoga bermanfaat buat anda.

Sunday, February 1, 2015

Pembibitan Kelapa Sawit PreNursery

Pembibitan Kelapa Sawit PreNursery. Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas maka sebaiknya dilakukan pembibitan kelapa sawit. Syarat lokasi pembibitan kelapa sawit telah di bahas pada artikel sebelumnya. Keuntungan dengan membuat pembibitan dibandingkan dengan menanam langsung adalah pemeliharaan yang lebih mudah, murah dan terkontrol sehingga resiko kematian bibit dapat dihindari. Jika kita menanam kecambah langsung di lahan maka pemeliharaan akan lebih sulit untuk dilakukan. Bagaimana sebenarnya cara pembibitan kelapa sawit akan di jabarkan di bawah ini.

Pembibitan kelapa sawit dilakukan selama  satu  tahun baru siap untuk di pindahkan kelapangan. Pembibitan kelapa sawit terdiri dari 2 tahap pengerjaan yaitu :
1. Prenursery
Kecambah di tanam dalam polibag kecil selama 3 bulan dan  akan di pindahkan ke pembibitan main nursery
2. Main nursery
Bibit di pindahkan (transplanting) dari polibag kecil ke dalam polibag besar dan dipelihara selama 9 bulan sampai siap di tanam. Cara pembibitan main nursery akan di jelaskan pada artikel berikutnya.

Adapun tahapan pekerjaan  untuk pembibitan kelapa sawit tahap prenursery adalah sebagai berikut :

A. Persiapan Media Tanah.
Tanah Top soil diayak dengan ayakan 1 cm untuk memisahkan bongkah-bongkah tanah dan sisa-sisa akar/kerikil. Tanah  yang  telah  diayak dicampur dengan pupuk TSP/RP sebanyak 10 gr/ polibag kecil ( berukuran lebar 15 cm, panjang 23 cm dan tebal 0,1 mm). 

Tujuan pemberian pupuk adalah untuk mejaga nutrisi hara tersedia bagi bibit di awal pertumbuhan karena unsur Posfor berguna untuk pertumbuhan akar. Tanah kemudian di masukkan kedalam polibag kecil dan dipadatkan.

Polibag kecil kemudian di susun dalam bedengan dengan lebar 1 - 1,2 m dan panjang sesuai dengan jumlah bibit yang diinginkan.

B. Penanaman Kecambah
Kecambah harus cepat ditanam jika kemasan plastik sudah dibuka hal ini untuk menghindari kerusakan pada kecambah.

Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Cara penanaman kecambah adalah dengan membuat lobang kemudian meletakkan kecambah kedalam dengan posisi radiks (bakal akar) biasanya berwarna putih menghadap ke bawah. sedangkan calon pucuk biasanya ditandai dengan berwarna hijau harus menghadap ke atas. Hal ini bertujuan untuk menghindari kecambah mati atau tumbuh memutar. 

C. Pemeliharaan Bibit PreNursery
Pemeliharaan di pembibitan  prenursery adalah  :
1. Penyiangan gulma setiap bulan 
Penyiangan gulma dilakukan dengan manual terutama yang berada di dalam polibag tujuannya adalah untuk menghindari persaingan unsur hara dan cahaya antara bibit dengan gulma.

2. Penyiraman 
Dilakukan setiap pagi dan sore hari terkecuali jika hujan turun. Kebutuhan air sekitar 0,2 - 0,3 l per baby bag per hari. Jika ada hujan maka penyiraman tidak perlu dilakukan. Untuk sekala kecil penyiraman dapat dilakukan secara manual tetapi untuk sekala besar di perlukan sistem penyiraman untuk mengurangi biaya penyiraman.

3. Pemupukan di pembibitan prenursery 
Bibit yang sudah ditanam di pembibitan juga membutuhkan perlakukan pemupukan untuk mempercepat pertumbuhannya adapun cara pembukan bibit pre nursery disajikan dalam table berikut ini :

1. Minggu ke empat dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
2. Minggu ke lima dilakukan pemupukan Urea sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
3. Minggu ke enam dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
4. Minggu ke tujuh dilakukan pemupukan Urea sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
5. Minggu ke delapan dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
6. Minggu ke sembilan dilakukan pemupukan Urea sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
7. Minggu ke sepuluh dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
8. Minggu ke sebelas dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit
9. Minggu ke duabelas dilakukan pemupukan NPK (15:15:6:4) sebanyak 25 gr/10L/200 bibit

Setelah berumur 3 bulan maka bibit sudah siap untuk di pindahkan ke pembibitan main nursery. Bagaimana cara pembibitan pada tahap Main Nursery akan di jabarkan pada artikel berikutnya. 

Demikian informasi tentang cara pembibitan pre nursery kelapa sawit semoga dapat bermanfaat buat kita semuanya. 

Sunday, March 30, 2014

Pengertian, Jenis dan Fungsi Pupuk bagi Tanaman

Pengertian, Jenis dan Fungsi Pupuk bagi Tanaman. Pupuk dapat di defenisikan sebagai unsur hara yang berasal dari bahan alami (organik) atau bahan buatan (anorganik) yang di berikan kepada tanaman. Di dalam tubuh tanaman pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen , fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien).

Berdasarkan asal atau kejadiannya, pupuk dapat digolongkan sebagai berikut :

a.    Pupuk Organik
Pupuk organic adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsur hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme. Selain pupuk anorganik, pupuk organic juga harus dberikan pada tanaman. Macam-macam pupuk organic adalah sebagi berikut:
1.    Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.
2.   Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.
3.    Pupuk kandang
pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya.


b.     Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adlah puuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsure hara tertentu dalam kadar tinggi. Pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murni dari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Puuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.
Berdasarkan kandungan unsur-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai berikut :
1.     Pupuk Tunggal
Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu pupuk N, P, dan K.
a.    Pupuk Nitrogen
Fungsi nitrogen (N) bagi tumbuhan adalah:
-  Mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman, dan merangsang pertunasan.
-      Memperbaiki kualitas, terutama kandungan proteinnya.
-      Menyediakan bahan makanan bagi mikroba (jasad renik)
Nitrogen diserap dalam tanah berbentuk ion nitrat atau ammonium. Kemudian, didalam tumbuhan bereaksi dengan karbon membentuk asam amino, selanjutnya berubah menjadi protein. Nitrogen termasuk unsure yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman karena 16-18% protein terdiri dari nitrogen. Pupuk yang paling banyak mengandung unsure nitrogen adalah pupuk urea.
Macam-macam pupuk nitrogen sebagai berikut.
-      pupuk urea(CO(NH2)2) yang mengandung 47% nitrogen (paling tinggi dibandingkan dengan pupuk nitrogen jeni lain). Urea sangat mudah larut dalam air dan juga mudah diubah menjadi ion nitrat (NO3-) yang mudah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Cara pembuatan urea :
2NH3(g) +CO2(g)         CO(NH2)2(s) +H2O (l)
-  Pupuk ZA (Zwavel Ammonium) atau ammonium sulfat ((NH4)2SO4) yang mengandung 21% nitrogen.
-      Pupuk ammonium klorida (salmiak) atau NH4Cl, mengandung 20% nitrogen.
-      Pupuk ASN (ammonium Sulfat Nitrat) atau [(NH4)3(SO4)(NO3)], mengandung 23-26% nitrogen.
-      Pupuk natrium nitrat atau sodium nitrat (NaNO3), mengandung 15% nitrogen.
b.    Pupuk Posfat
Posfat (P) bagi tanaman berperan dalam proses:
l  respirasi dan fotosintesis
l  penyusunan asam nukleat
l  pembentukan bibit tanaman dan penghasil buah.
l  Perangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, dan,
l  Mempercepat masa panen sehingga dapat mengurangi resiko keterlambatan waktu panen.
Unsure fosfor diperlukan diperlukan dalam jumlah lebih sedikit daripada unsure nitrogen. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk apatit kalsium fosfat, FePO4, dan AlPO4.
Macam-macam pupuk fosfor sebagai berikut :
-      pupuk superfosfat (Ca(H2PO4)2) yang sangat mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Contoh: Engkel superfosfat (ES) yang mengandung sekitar 15% P2O5, Double superfosfat (DS) yang mengandung sekitar 30% P2O5, dan Tripel Superfosfat (TSP) yang mengandung sekitar 45%P2O5.
-      Pupuk FMP (Fused Magnesium Phosphate) atau Mg3(PO4)2 yang baik digunakan pada tanah yang banyak mengandung besi dan aluminium.
-      Pupuk aluminium fosfat (AlPO4)
-      Pupuk besi (III) fosfat (FePO4)

c.    Pupuk Kalium
Fungsi kalium bagi tanaman adalah
l  Mempengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.
l  Mempercepat metabolisme unsure nitrogen,
l  Mencegah bunga dan buah agar tidak mudah gugur.
Macam-macam pupuk kalium sebagai berikut:
-      pupuk kalium klorida atau potassium klorida (KCl). Ada 2 macam pupuk KCl yang beredar di pasaran, yaitu KCl 80 (mengandung 50% K2O) dan KCl 90 (mengandung 53% K2O).
-      Pupuk ZK (Zwavel Kalium) atau kalium sulfat (K2SO4) yang baik digunakan pada tanaman yang tidak tahan te rhadap konsentrasi ion klorida tinggi. Ada 2 macam pupuk ZK yang beredar di pasaran, yaitu ZK 90 (mengandung 50% K2O) dan ZK 96 (mengandung 53% K2O).


2.    Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsure hara yang digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL).
Kadar unsure hara N, P, dan K dalam pupuk majemuk dinyatakan dengan komposisi angka tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-20-15 berarti bahwa dalam pupuk itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor (sebagai P2O5)dan 15% kalium (sebagai K2O).
Penggunaan pupuk majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan dari jenis tanaman yang akan dipupuk karena setiap jenis tanaman memerlukan perbandingan N, P, dan K tertentu. Di Indonesia beredar beberapa jenis pupuk majemuk dengan komposisi N, P, dan K yang beragam.

Demikian Informasi tentang defenisi, jenis dan fungsi pupuk bagi tanaman semoga membantu dan bermanfaat.

Monday, February 10, 2014

Fosfor Fungsi dan Gejala Defisiensi

Fosfor bersama-sama dengan Nitrogen dan Kalsium, digolongkan sebagai unsur-unsur utama walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil dari kedua unsur tersebut. Tanaman biasanya mengabsorpsi P dalam bentuk ion orthofosfat primer H2PO4- dan sebagian kecil dalam bentuk sekunder HPO42-. Absorpsi kedua ion itu oleh tanaman dipengaruhi oleh pH tanah sekitar akar. Pada pH tanah yang rendah absorpsi bentuk H2PO4- akan meningkat.

Fungsi Fosfor Bagi Tanaman
1.Pertumbuhan akar 
Posfat yang cukup akan memperbesar pertumbuhan akar. Percobaan-percobaan dari Ohlrogge dan rekan-rekannya di universitas Purdue, menunjukkan bahwa apabila pupuk P yang mudah larut diberikan bersama-sama dengan pupuk NH4+ di dalam larikan, maka akar tanaman akan berkembang hebat sekali di daerah itu. Juga ada kenyataan bahwa absorpsi fosfat bertambah bila dipakai pupuk nitrat dibandingkan dengan pupuk amonium.
2.Mempercepat masaknya buah
Posfat juga mempercepat masaknya buah terutama bagi tanaman serealia. 
3.Pembentukkan biji
Posfat penting bagi pembentukkan biji, dan banyak dijumpai di dalam buah dan biji.
4.Mempecepat reaksi kimia 
Peranan posfat adalah memungkinkan semua reaksi-reaksi kimia di dalam proses biologi berlangsung sempurna dan dipercepat. Posfat berperan penting dalam proses photosintesa, perubahan - perubahan karbohidrat dan senyawa-senyawa yang berhubungan dengannya, glikolisis, meta bolisme asam amino, metabolisme lemak, metabolisme sulfur, oksidasi biologis, dan sejumlah reaksi dalam proses hidup.

Gejala kekurangan unsur P :
1.Warna daunnya akan tampak tua dan sering tampak mengkilap kemerahan
tepi daun bercabang
2.Batang terdapat warna merah ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning
3.Jika tanaman berbuah, buahnya kecil, tampak jelek dan lekas matang.
4.Pertumbuhannya kerdil, pelepah memendek dan  ada kecendrungan batang/bonggol batang mengerucut
5.Tanaman  lain yang digunakan sebagai indicator, warna helaian daun lalang keunguan, sulit berkembang dan bintil-bintil N pada akar sangat jarang
6.Biasanya terdapat Senduduk dan pakis kawat
  
Gejala kelebihan unsur P :
Gejala kekurangan Posfat yang terlihat pada tanaman adalah :
1.Tumbuhan kerdil
2.Warna daun berubah menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung-ujung daun.

Demikian informasinya semoga dapat membantu dan bermanfaat buat kita semuanya.

Wednesday, February 5, 2014

Fungsi dan Gejala Defisiensi Nitrogen

Nitrogen termasuk unsur hara makro utama yang dibutuhkan semua tanaman dalam jumlah yang banyak. Nitrogen terdapat dalam beberapa jenis pupuk seperti ZA, Urea, NPK dan beberapa pupuk cair. Kandungan unsur hara Nitrogen memiliki kadar yang berbeda-beda antar setiap jenis pupuk. Nitrogen sangat penting untuk pembentukan protein, daun-daunan dan berbagai persenyawaan organik lainnya.
Unsur  ini penting bagi tanaman dapat disediakan oleh manusia melalui pemupukan. Nitrogen umumnya diserap oleh tanaman dalam bentuk NO3- dan NH4+ walaupun urea (H2NCONH2) dapat  juga dimanfaatkan oleh tanaman karena urea secara cepat dapat diserap melalui epidermis daun. Jarang sekali bahwa urea diabsorpsi melalui akar karena di dalam tanah urea dihidrolisa menjadi NH4+ senyawa-senyawa ini biasanya tidak terdapat dalam larutan tanah dalam  jumlah yang cukup berarti. Di tanah-tanah yang bereaksi agak masam  sampai alkali, dengan aerasi baik, maka bentuk NO3-akan banyak dijumpai.

Fungsi Nitrogen :
a.         Pembentukan daun-daun dan ranting. 
Unsur hara Nitrogen sangat dibutuhkan untuk pembentukan daun dan ranting oleh karenanya kekurangan unsur hara ini akan terlihat dengan  jelas pada daun tanaman.
b.        Pembentukan karbohidrat
Nitrogen berguna dalam proses pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis yang terjadi di daun tanaman.  
c.         Pembentukan protein
Apabila ketersediaan N sedikit maka hanya sebagian kecil hasil photosintesa yang dirubah menjadi protein dan sisanya diendapkan menjadi karbohidrat. Pada berbagai tanaman gandum menaikkan kadar protein pada butir gandum.
d.        Meningkatkan produksi tanaman.
Produksi tanaman akan meningkat dengan pemberia unsur hara nitrogen karena akan mempercepat proses pembentukan daun, protein dan mobilitas (unsur hara, protein dan karbohidrat) di dalam tubuh tanaman.

Gejala Kekurangan Unsur N :
a.       Warna daun yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning
Gejala yang paling mudah dilihat jika tanaman kekurangan N  adalah daun yang berubah warna menjadi kuning terutama pada daun muda..
b.      Daun menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan
Pada keadaan kandungan N yang rendah sekali, daun akan menjadi coklat dan mati. Untuk jenis rumput-rumputan ujung-ujung daun tua mula-mula akan mengering seperti terbakar dan menjalar ke seluruh daun melalui ibu tulang dan melebar ke samping sehingga memberikan bentuk V.
c.       Buah yang tidak sempurna
Jika tanaman kekurangan N maka akan terlihat buah yang umumnya kecil dan cepat matang.

Gejala Kelebihan Unsur N :
a.       Tanaman akan tampak terlalu subur, ukuran daun akan menjadi lebih besar
Unsur hara N yang berlebihan dapat dilahat pada daun tanaman yang berubah menjadi warna hijau tua. Pemberian N yang banyak akan mengakibatkan pertumbuhan vegetatip berlangsung hebat sekali dan warna daun menjadi hijau tua
b.      Batang menjadi lunak dan berair (sekulensi).
Pada tanaman serat, kelebihan N akan melemahkan serat-seratnya sedangkan untuk tanaman biji-bijian akan menyebabkan tanaman  rebah, terutama bila kekurangan  kalium atau apabila varietas yang dipakai tidak tahan terhadap pemupukan N yang tinggi.

c.       Penundaan pembentukan bunga, bahkan mudah lebih mudah rontok dan pemasakan buah cenderung terlambat.

Tuesday, November 5, 2013

Cara Budidaya Cacing Sutra


Cara Budidaya Cacing Sutra Terbaru. Cacing sutra merupakan salah satu komoditi yang sangat menarik untuk di budidayakan karena saat ini di Indonesia mulai banyak penggemar ikan hias. Cacing ini merupakan salah satu makanan untuk ikan hias yang baik karena mengandung gizi yang cukup tinggi untuk ikan hias. Cacing sutra memiliki nama latin tubifex sp. di Indonesia cacing sutra dikenal dengan nama cacing rambut atau cacing darah merupakan cacing kecil seukuran rambut berwarna kemerahan dengan panjang sekitar 1-3 cm, dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Budidaya ikan semakin berkembang, kebutuhan akan pakan mejadi salah satu masalah yang menjadi perhatian serius dari akuakulturis yang bergerak di bidang ini. Salah satu pakan yang menjadi kebutuhan bagi kegiatan budidaya adalah pakan alami. Ada berbagai macam pakan alami yang menjadi perhatian para akuakulturis, seperti fitoplankton, zooplankton, cacing, dan maggot. Pakan alami dikembangkan dengan berbagai tujuan seperti pemenuhan kebutuhan nutrisi, sebagai first feeding dalam pembenihan ikan, dan lain sebagainya.
gambar cacing sutra dalam koloni

Klasifikasi cacing sutra menurut Gusrina (2008) adalah :

Filum   : Annelida
Kelas   : Oligochaeta
Ordo    : Haplotaxida
Famili  : Tubifisidae
Genus  : Tubifex
Spesies: Tubifex sp.

Syarat Hidup Cacing Sutra
Cacing ini memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1-2 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagian organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut (Djarijah 1996).

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing sutera ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari (Lukito dan Surip 2007).

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Jadi daur hidup cacing sutera dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari (Gusrina, 2008).

Manfaat Cacing sutra
Cacing rambut merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk memberi makan ikan yang anda pelihara, terutama pada saat fase larva hingga benih ataupun untuk ikan hias anda karena memiliki kandungan nutrisi yang baik dan cenderung seimbang dan sangat bagus untuk pertumbuhan ikan.

Cara Budidaya cacing sutra
1.Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam. Catatan : Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan membawa bakteri patogen.

2. Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.

3. Pemupukan

Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2.

Cara pembuatan pupuk :

a. Siapkan kotoran ayam, jemur 6 jam.
b. Siapkan bakteri EM4 untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Cari di toko pertanian atau toko peternakan atau balai peternakan.
c. Aktifkan/Kembangkan bakterinya dengan cara ¼ sendok makan gula pasir  + 4ml EM4 + dalam 300ml air terus diamkan kurang lebih 2   jam.
d. Campur cairan itu ke 10kg kotoran ayamyang dah di jemur tadi, aduk hingga rata.
e. Selanjutnyamasukkan ke wadah yang tertutuprapat selama 5 hari

4. Fermentasi
Bertujuan untuk menaikkan kandungan N-organik dan C-organik hingga 2 kali lipat. Caranya adalah lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.

5. Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

6. Pemeliharaan Cacing Sutra
a.  Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm.
b. Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.
Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolamdibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.
c. Pipa Air Keluar (Pipa Pengeluaran/Outlet)dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik.Pipa Pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjangsekitar 15 cm.
d. Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan danbenda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
e. Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggapbanyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.
f. Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dantidak terdapat lumpur yang keras.
g. Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semuabagian.
h. Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudiansebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.
i.  Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuaipanjang pipa pembuangan.
j.  Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
k. Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.
l. Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalambaskom agar gumpalannya buyar.
m. Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruhpermukaan kolam secara merata.
n. Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.

7.  Makanan Cacing Sutra
Karena cacing sutra termasuk makhluk hidup, tentunya cacing sutra tersebut juga butuh makan. Makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan. Cara makan cacing sutra adalah dengan cara menelan makanan bersama sedimennya dan karena cacing sutra mempunyai mekanisme yang dapat memisahkan sedimen dan makanan yang mereka butuhkan. Jadi kita juga harus menyediakan makanannya tersebut.

8. Panen
Panen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Cara pemanenan cacing suteradengan menggunakan serokhalus/lembut. Cacing sutera yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media budidaya agar cacing rambut naik ke permukaan media budidaya. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama enam jam. Setelah enam jam, cacing rambut yang menggerombol diatas media diambil dengan tangan. Dengan cara ini didapat cacing sutera sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu. Untuk mendapatkan cacing rambut yang cukup dan berkesinambungan, panjang parit perlu dirancang sesuai dengan keperluan setiap harinya.

Demikian informasi tentang cara budidaya cacing sutra, selamat mencoba semoga sukses beternak cacing sutranya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...